Penyakit Umat Umat Terdahulu Hingga Umat Sekarang

Rasulullah bersabda, “Pintu-pintu surga itu dibuka pada hari Senin dan Kamis, lalu diampunkanlah bagi setiap hamba yang tidak menyekutukan sesuatu dengan Allah, kecuali seseorang yang antara dirinya dan saudaranya itu ada rasa dendam, lalu dikatakanlah, ‘Nantikanlah dulu kedua orang ini sehingga keduanya berdamai kembali. Nantikanlah kedua orang ini sehingga keduanya berdamai kembali’.” (HR Muslim)


Perbedaan kerap menimbulkan gesekan hingga berujung pada pertikaian atau konflik. Dalam setiap konflik, terkadang bukan hanya luka fisik yang tertinggal, melainkan juga luka nonfisik (batin) dalam rupa dendam. Dendam inilah api dalam sekam yang terus-menerus memelihara konflik hingga membuatnya tak kunjung padam, tak cepat usai. Karena dendam, masalah sepele bisa menjadi masalah serius.

Dalam sebuah hadisnya, Rasulullah mengingatkan, “Kelak akan menimpa umatku penyakit umat umat terdahulu, yaitu penyakit sombong, kufur nikmat, dan lupa daratan dalam memperoleh kenikmatan. Mereka berlomba mengumpulkan harta dan bermegah-megahan dengan harta. Mereka terjerumus dalam jurang kesenangan dunia, saling bermusuhan, dan saling iri, dengki, dan dendam sehingga mereka melakukan kezaliman (melampaui batas).” (HR Al-Hakim)

Dendam adalah sejenis penyakit hati yang destruktif. Tidak hanya bagi orang yang punya dendam, tetapi juga pihak yang didendami. Karena itulah, seperti diingatkan pada hadis di awal, seseorang mesti membersihkan hatinya dari dendam. Orang yang punya rasa dendam akan tertahan tidak masuk surga hingga ia memaafkan dan berdamai. Dan pemaafan atau perdamaian ini bukan dilakukan saat di akhirat, melainkan dilakukan saat masih di dunia karena akhirat adalah tempat pertanggungjawaban amal-amal di dunia. Kecuali jika Allah berkehendak lain.

Surga adalah “darussalam”, tempat yang aman, damai, sejahtera. Tidak ada dendam di hati para penghuninya. Seperti yang difirmankan Allah, “Dan Kami mencabut rasa dendam dari dalam dada mereka, di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kami ke (surga) ini. Kami tidak akan mendapat petunjuk sekiranya Allah tidak menunjukkan kami. Sesungguhnya rasul-rasul Tuhan kami telah datang membawa kebenaran.’ Diserukan kepada mereka, ‘Itulah surga yang telah diwariskan kepadamu karena apa yang telah kamu kerjakan’.” (QS al-A’raf [7]: 43)

Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang yang bertakwa itu berada dalam surga-surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air (yang mengalir). (Allah berfirman), ‘Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera dan aman.’ Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang ada dalam hati mereka: mereka merasa bersaudara, duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (QS al-Hijr [15]: 45-47)

Surga tak layak dihuni oleh orang-orang yang punya rasa dendam di hatinya. Dendam sendiri bukanlah karakter seorang Muslim sejati. Dengan kata lain, jika seseorang ingin masuk surga, ia harus membersihkan hatinya dari rasa dendam. Sebagai gantinya, ia mengisi hatinya dengan rasa maaf, cinta damai, dan kasih sayang. Jika dendam sudah lenyap dari hati, segala pertikaian dan konflik akan cepat berakhir. Wallahu ‘alam.

Sumber : Republika.co.id

loading...